Foto-foto Aborsi

Image          Image

         

 

       

 

     

Hukum Aborsi dan Peran Perawat dalam Mencegah Aborsi

Image

Setelah mengetahui mengenai aborsi dan dampak jika kita melakukan aborsi, maka sebaiknya kita mengetahui hukum aborsi dalam Islam:

1. Menggugurkan Janin Sebelum Peniupan Roh

Dalam hal ini, para ulama berselisih tentang hukumnya dan terbagi menjadi tiga pendapat.

Pendapat pertama:

  • Menggugurkan janin sebelum peniupan roh hukumnya boleh. Bahkan sebagian dari ulama membolehkan menggugurkan janin tersebut dengan obat. (Hasyiat Al Qalyubi : 3/159)
  • Pendapat ini dianut oleh para ulama dari madzhab Hanafi, Syafi’I, dan Hambali.  Tetapi kebolehan ini disyaratkan adanya ijin dari kedua orang tuanya (Syareh Fathul Qadir : 2/495)
  • Mereka berdalil dengan hadist Ibnu Mas’ud di atas yang menunjukkan bahwa sebelum empat bulan, roh belum ditiup ke janin dan penciptaan belum sempurna, serta dianggap benda mati, sehingga boleh digugurkan.

Pendapat kedua:

       Menggugurkan janin sebelum peniupan roh hukumnya makruh. Dan jika sampai pada waktu peniupan ruh, maka hukumnya menjadi haram. Dalilnya bahwa waktu peniupan ruh tidak diketahui secara pasti, maka tidak boleh menggugurkan janin jika telah mendekati waktu peniupan ruh, demi untuk kehati-hatian. Pendapat ini dianut oleh sebagian ulama madzhab Hanafi dan Imam Romli salah seorang ulama dari madzhab Syafi’I . (Hasyiyah Ibnu Abidin : 6/591Nihayatul Muhtaj : 7/416)

Pendapat ketiga:

       Menggugurkan janin sebelum peniupan roh hukumnya haram. Dalilnya bahwa  air mani sudah tertanam dalam rahim dan telah bercampur dengan ovum wanita sehingga siap menerima kehidupan, maka merusak wujud ini adalah tindakan kejahatan . Pendapat ini dianut oleh Ahmad Dardir, Imam Ghozali dan Ibnu Jauzi (Syareh Kabir : 2/ 267, Ihya Ulumuddin : 2/53, Inshof : 1/386)

            Adapun status janin yang gugur sebelum ditiup rohnya (empat bulan) , telah dianggap benda mati, maka tidak perlu dimandikan, dikafani ataupun disholati. Sehingga bisa dikatakan bahwa menggugurkan kandungan dalam fase ini tidak dikatagorikan pembunuhan, tapi hanya dianggap merusak sesuatu yang bermanfaat.

            Ketiga pendapat ulama di atas tentunya dalam batas-batas tertentu, yaitu jika di dalamnya ada kemaslahatan, atau dalam istilah medis adalah salah satu bentuk Abortus Profocatus Therapeuticum, yaitu jika bertujuan untuk kepentingan medis dan terapi serta pengobatan. Dan bukan dalam katagori Abortus Profocatus Criminalis, yaitu yang dilakukan karena alasan yang bukan medis dan melanggar hukum yang berlaku, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

2. Menggugurkan Janin Setelah Peniupan Roh

       Secara umum, para ulama telah sepakat bahwa menggugurkan janin setelah peniupan roh hukumnya haram. Peniupan roh terjadi ketika janin sudah berumur empat bulan dalam perut ibu, Ketentuan ini berdasarkan hadist Ibnu Mas’ud di atas. Janin yang sudah ditiupkan roh dalam dirinya, secara otomatis pada saat itu, dia  telah menjadi seorang manusia, sehingga haram untuk dibunuh. Hukum ini berlaku jika pengguguran tersebut dilakukan tanpa ada sebab yang darurat. Namun jika disana ada sebab-sebab darurat, seperti jika sang janin nantinya akan membahayakan ibunya jika lahir nanti, maka dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat:

Pendapat Pertama:

       Menggugurkan janin setelah peniupan roh hukumnya tetap haram, walaupun diperkirakan bahwa janin tersebut akan membahayakan keselamatan ibu yang mengandungnya. Pendapat ini dianut oleh Mayoritas Ulama.

Dalilnya adalah firman Allah swt :

“ Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. “ (Q.S. Al Israa’: 33)

       Kelompok ini juga mengatakan bahwa kematian ibu masih diragukan, sedang keberadaan janin merupakan sesuatu yang pasti dan yakin, maka sesuai dengan kaidah fiqhiyah : “Bahwa sesuatu yang yakin tidak boleh dihilanngkan dengan sesuatu yang masih ragu”, yaitu tidak boleh membunuh janin yang sudah ditiup rohnya yang merupakan sesuatu yang pasti, hanya karena kawatir dengan kematian ibunya yang merupakan sesuatu yang masih diragukan. (Hasyiyah Ibnu Abidin : 1/602). Selain itu, mereka memberikan permitsalan bahwa jika sebuah perahu akan tenggelam, sedangkan keselamatan semua perahu tersebut bisa terjadi jika sebagian penumpangnya dilempar ke laut, maka hal itu juga tidak dibolehkan.

Pendapat Kedua :

       Dibolehkan menggugurkan janin walaupun sudah ditiupkan roh kepadanya, jika hal itu merupakan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan ibu dari kematian. Karena menjaga kehidupan ibu lebih diutamakan dari pada menjaga kehidupan janin, karena kehidupan ibu lebih dahulu dan ada secara yakin, sedangkan kehidupan janin belum yakin dan keberadaannya terakhir. (Mausu’ah Fiqhiyah : 2/57)

       Dari keterangan di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa para ulama sepakat bahwa Abortus Profocatus Criminalis, yaitu aborsi kriminal yang menggugurkan kandungan setelah ditiupkan roh ke dalam janin tanpa suatu alasan syar’I hukumnya adalah haram dan termasuk katagori membunuh jiwa yang diharamkan Allah swt.

Adapun aborsi yang masih diperselisihkan oleh para ulama adalah Abortus Profocatus Therapeuticum, yaitu aborsi yang bertujuan untuk penyelamatan jiwa, khususnya janin yang belum ditiupkan roh di dalamnya.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun 1983 menyatakan sebagai berikut:

“Pengguguran kandungan (abortus) termasuk “ menstrual regulation “ (MR) dengan cara apapun di larang oleh jiwa dan semangat ajaran islam, hukumnya haram baik di kala janin sudah bernyawa (di atas 4 bulan dalam kandungan) ataupun dikala janin belum bernyawa (belum berumur 4 bulan dalam kandungan), karena perbuatan itu termasuk pembunuhan terselubung yang di larang oleh syariat Islam, kecuali untuk menyelamatkan jiwa si ibu”.

Karena semakin maraknya tindakan aborsi, maka sebagai perawat kita harus dapat mencegah aborsi dengan cara:

  1. Berikan penyuluhan tentang seks terutama kepada kalangan remaja
  2. Menolak secara baik-baik jika ada klien yang akan melakukan aborsi
  3. Lakukan pendekatan kepada klien dan jelaskan bahwa dengan melakukan aborsi sama saja dengan melakukan pembunuhan
  4. Mendampingi klien untuk memperdalam agama dan berikan penjelasan aborsi menurut agama kepada klien
  5. Beritahu pasien bahwa dengan melakukan aborsi, bahwa bayi yang akan diaborsi adalah seseorang yang tidak berdosa
  6. Jelaskan dampak-dampak dari aborsi. Misalnya, aborsi dapat mengakibatkan infeksi, pembekuan darah dalam kandungan, trauma rahim, pendarahan, bahkan kematian
  7. Support klien lalu bimbing klien untuk menyesali perbuatannya dan kembali kepada jalan yang benar
  8. Ingatkan pegawai medis yang lain untuk menolak aborsi

Dengan begitu, semoga aborsi dapat dihapuskan dan tidak berkembang menjadi ‘trend’ di kalangan masyarakat. 

Resiko Aborsi

Image

Banyak resiko yang mucul setelah melakukan aborsi. Selain terdapat resiko kesehatan dan keselamatan secara fisik, terdapat juga resiko mengenai gangguan psikologis yang diakibatkan oleh tindakan aborsi.

Dalam buku Facts of Life yang ditulis oleh Brian Clowes, setelah melakukan tindakan aborsi resiko yang kemungkinan akan terjadi adalah :

1. Kematian mendadak karena pendarahan hebat 
2. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal
3. Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan
4. Rahim yang sobek (Uterine Perforation)
5. Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat padaanak berikutnya
6. Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita)
7. Kanker indung telur (Ovarian Cancer)
8. Kanker leher rahim (Cervical Cancer)
9. Kanker hati (Liver Cancer)
10.Kelainan pada placenta/ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat 
pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya
11.Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy
12.Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease
13.Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis)

Selain resiko secara fisik, ada juga resiko secara mental yang dapat timbul sebagai akibat dari aborsi. Didalam dunia psikologi gejala ini dikenal sebagai PAS (Post-Abortion Syndrome) atau Sindrom Paska-Aborsi. Gejala-gejala ini dicatat dalam Psychological Reactions Reported After Abortion di dalam penerbitan The Post-Abortion Review (1994).

Gejala-gejalanya adalah:
1. Kehilangan harga diri (82%)
2. Berteriak-teriak histeris (51%)
3. Mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi (63%)
4. Ingin melakukan bunuh diri (28%)
5. Mulai mencoba menggunakan obat-obat terlarang (41%)
6. Tidak bisa menikmati lagi hubungan seksual (59%)

Aborsi dalam Islam

           Image

              Aborsi. Kata ini memang sudah tidak asing bagi kita, sering sekali kita mendengarnya di berbagai media masa seperti televisi, media cetak, dan media sosial. Seiring dengan pergaulan antara perempuan dan laki-laki yang tidak ada batasnya, aborsi ini kerap dijadikan jalan keluar bagi ‘mereka’ yang melakukan seks di luar pernikahan. Namun, apa aborsi itu?

Aborsi (bahasa Latin: abortus) adalah berhentinya kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu yang mengakibatkan kematian janin. Apabila janin lahir selamat (hidup) sebelum 38 minggu namun setelah 20 minggu, maka istilahnya adalah kelahiran prematur.

Sedangkan, menurut bahasa Arab disebut dengan al-Ijhadh yang berasal dari kata ajhadha-yajhidhu yang berarti wanita yang melahirkan anaknya secara paksa dalam keadaan belum sempurna penciptaannya. Atau juga bisa berarti bayi yang lahir karena dipaksa atau bayi yang lahir dengan sendirinya. Aborsi di dalam istilah fikih juga sering disebut dengan isqhoth (menggugurkan) atau ilqaa’ (melempar) atau tharhu (membuang)  (al Misbah al Munir, hlm:72).

Dalam dunia medis, aborsi dibagi ke dalam 2 bagian yaitu:

  1. Aborsi spontan (Abortus Spontaneus) adalah aborsi secara secara tidak sengaja dan berlangsung alami tanpa ada kehendak dari pihak-pihak tertentu. Masyarakat mengenalnya dengan istilah keguguran.
  2. Aborsi buatan (Aborsi Provocatus) adalah aborsi yang dilakukan secara sengaja dengan tujuan tertentu. Aborsi Provocatus ini dibagi menjadi dua :
  • Jika bertujuan untuk kepentingan medis dan terapi serta pengobatan, maka disebut dengan Abortus Profocatus Therapeuticum.
  • Jika dilakukan karena alasan yang bukan medis dan melanggar hukum yang berlaku, maka disebut Abortus Profocatus Criminalis.

Lalu, apa pandangan Islam mengenai aborsi? Sebelum itu mari kita renungkan ayat-ayat Allah SWT mengenai nyawa, janin, dan pembunuhan.

Pertama:

Manusia  adalah ciptaan Allah yang mulia, tidak boleh dihinakan baik dengan merubah ciptaan tersebut, maupun mengranginya dengan cara memotong sebagian anggota tubuhnya, maupun dengan cara memperjual belikannya, maupun dengan cara menghilangkannya sama sekali yaitu dengan membunuhnya, sebagaiman firman Allah swt :  “Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan umat manusia “ ( QS. Al-Isra’: 70)

Kedua:

Membunuh satu nyawa sama artinya dengan membunuh semua orang. Menyelamatkan satu nyawa sama artinya dengan menyelamatkan semua orang. Sebagaimana firman Allah swt.:“Barang siapa yang membunuh seorang manusia, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara keselamatan nyawa seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara keselamatan nyawa manusia semuanya” (QS. Al Maidah: 32)

Ketiga: 

Dilarang membunuh anak (termasuk di dalamnya janin yang masih dalam kandungan), hanya karena takut miskin. Sebagaimana firman Allah swt :“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut melarat. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu juga. Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa yang besar.” (QS. Al Isra’:31)

Keempat :

Setiap janin yang terbentuk adalah merupakan kehendak Allah swt, sebagaimana firman Allah swt: “Selanjutnya Kami dudukan janin itu dalam rahim menurut kehendak Kami selama umur kandungan. Kemudian kami keluarkan kamu dari rahim ibumu sebagai bayi.” (QS. Al Hajj:5)

Kelima: 

Larangan membunuh jiwa tanpa hak, sebagaimana firman Allah swt : “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah melainkan dengan alasan yang benar“ (QS Al Isra’:33)

Setelah mengetahui pandangan Islam mengenai aborsi, selanjutnya ada hukum abosi dalam Islam. Di dalam teks-teks al Qur’an dan Hadist tidak didapati secara khusus hukum aborsi, tetapi yang ada adalah larangan untuk membunuh jiwa orang tanpa hak, sebagaimana firman Allah swt :

“ Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah neraka Jahanam, dan dia kekal di dalamnya,dan Allah murka kepadanya dan melaknatnya serta menyediakan baginya adzab yang besar” (QS An-Nisa’: 93)

Begitu juga hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud bahwasanya Rosulullah saw bersabda :

“ Sesungguhnya seseorang dari kamu dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari. Setelah genap empat puluh hari kedua, terbentuklah  segumlah darah beku. Ketika genap empat puluh hari ketiga , berubahlah menjadi segumpal daging. Kemudian Allah mengutus malaikat   untuk meniupkan roh, serta memerintahkan untuk menulis empat perkara, yaitu penentuan rizki, waktu kematian, amal, serta nasibnya, baik yang celaka, maupun yang bahagia.“ (Bukhari dan Muslim)